Minggu, 21 Agustus 2016

Cerita Ketoprak Siswo Budoyo & Lekra Sebelum Tragedi 65


Semboyan Tiga Tinggi, yakni Tinggi Ideologi, Tinggi Artistik dan Tinggi Organisasi menjadi mantra suci Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organ sayap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Melandaskan pada kolaborasi mantra Tiga Baik (Baik Bekerja, Belajar, dan Moral), para tentara kebudayaan itu (sebutan seniman Lekra), mencoba  menyatupadukan teater tradisional Ketoprak ke dalam wadah Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi).

Dua tahun sebelum peristiwa 30 September 1965 meletus, Kuslan Budiman, perupa Lekra dalam surat kabar Harian Rakyat yang terbit tanggal 24 November 1963 memaparkan, bahwa jelang Kongres partai yang digelar di Solo April 1964, jumlah organisasi ketoprak terus meningkat.

Lekra menganggap Bakoksi sebagai  organisasi terpenting yang harus digarap serius. Prinsipnya, ketoprak  harus termanifestasi ke dalam politik Republik Indonesia (manipol) sekaligus menjadi senjata rakyat.

Manipol adalah garis besar haluan negara pada masa pemerintahan demokrasi terpimpin era Presiden Soekarno. Saat itu, tulis Kuslan, sedikitnya ada 800 ketoprak yang  turut gencar mengibarkan panji Bakoksi.

Di antaranya di wilayah Kabupaten Temanggung sebanyak 290 ketoprak, Pati 100 ketoprak, Surabaya 40 ketoprak, Pekalongan 150 ketoprak, Semarang 100 ketoprak, Madiun, Ponorogo, Pacitan dan Ngawi 60 ketoprak, Jakarta 15 ketoprak, Kediri dan sekitarnya 55 ketoprak, Besuki 20 ketoprak dan Kotapraja Yogyakarta 50 ketoprak (Prahara Budaya: 72-73).

Sekedar mengingat, Lekra merupakan ormas kebudayaan PKI yang berdiri 17 Agustus 1950 di Jalan Wahidin No 10 Jakarta Pusat. Organisasi para seniman ini didirikan oleh A.S Dharta (Sekretaris Umum), Joebaar Ajoeb, Henk Ngantung (mantan Gubernur DKI Jakarta), M.S Ashar dan Iramani (Njoto).

Adanya magnet pengaruh serta  jangkauan yang luas dari seni peran tradisional (ketoprak) itu membuat Lekra getol melakukan penggalangan ke semua wilayah dan daerah.

"Siswo Budoyo Tulungagung merupakan salah satu Ketoprak yang didekati dan diajak bergabung oleh  Lekra, " tutur Sunardi (74), salah satu mantan penggiat sekaligus adik kandung mendiang Ki Siswondo Harjosuwito, pendiri Ketoprak Siswo Budoyo.

Siswo Budoyo adalah ketoprak gaya baru asal Kabupaten Tulungagung yang kelahirannya dipandegani Siswondo Harjosuwito, salah seorang pegawai koperasi Batik Tulungagung.

Sunardi yang ditemui di rumahnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung mengisahkan perjalanan sejarah Siswo Budoyo, termasuk bagaimana persinggungannya dengan Lekra.

Setelah lama bergulat di dalam seni pertunjukkan wayang orang, pada 20 Juni 1958, Siswondo bersama empat orang, termasuk istrinya, memutuskan mendirikan ketoprak Siswo Budoyo di lingkungan perempatan Cuwiri, Desa Kalangbret.

Tidak sia-sia. Animo masyarakat pecinta kesenian rakyat Kota Marmer meningkat pesat. Konsekuensinya, jadwal pertunjukkan yang sebelumnya dibagi dengan wayang orang, oleh Siswondo sepenuhnya dialihkan untuk pagelaran Siswo Budoyo. Secara otomatis, wayang orang sengaja dibuat gulung tikar.

"Jumlah massa rakyat peminat ketoprak yang besar itulah yang mungkin membuat Lekra begitu tertarik merangkul Siswo Budoyo ke dalam wadahnya, " terang Sunardi.

Tidak hanya memenuhi panggilan pentas antar kecamatan. Ketoprak  yang sebagian besar pemainya berasal dari lingkungan keluarga, perangkat kecamatan dan desa itu, kata Sunardi  mulai melebarkan sayap ke luar kota.

Sekitar tahun 1960, Ketoprak Siswo Budoyo resmi masuk wilayah Kabupaten Kediri. Setiap tampil di luar daerah, menurut Sunardi, Siswo Budoyo selalu menerapkan pola menambah pemain baru yang direkrut dari daerah setempat.

"Ini yang menjadikan Siswo Budoyo begitu dekat dengan rakyat dan memiliki jumlah massa penonton loyal yang tidak kecil, " papar Sunardi.

Sepengetahuan Sunardi, tawaran bergabung serta iming-iming bantuan dana besar yang disampaikan Lekra, ditolak oleh kakaknya. Siswondo yang namanya sudah kesohor sebagai tokoh seniman ketoprak berdalih dirinya sudah meleburkan diri ke dalam wadah Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).

LKN adalah organisasi kebudayaan yang berada di bawah langsung Partai Nasional Indonesia (PNI). LKN berdiri tahun 1959 yang diketuai seniman penyair revolusioner Sitor Situmorang.

Selain Lekra dan LKN, saat itu juga ada  Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik Nahdlatul Ulama (NU), serta Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) yang berafiliasi ke Partai Indonesia (Partindo).

"Seingat saya, Lekra tidak memaksakan kehendaknya. Setelah ditolak, mereka tidak mencoba mendekat lagi, "terang Sunardi.

Meski menyatakan bergabung ke dalam LKN, Siswondo tidak pernah menghalangi pilihan politik anak buahnya. Diakui Sunardi ada beberapa anggota Ketoprak Siswo Budoyo yang tercatat sebagai simpatisan Lekra. Salah satunya adalah pelukis kelir (tirai) back ground ketoprak yang ikut terbantai dalam peristiwa G 30 S PKI meletus. "Namun kita tahunya setelah yang bersangkutan, yakni warga Gringging Kabupaten Nganjuk ikut terbunuh dalam peristiwa 65,” jelasnya.

Kelonggaran sikap itu  yang membuat Siswo Budoyo tetap bisa berpentas ke mana-mana. Pada 1961 Siswo Budoyo manggung di wilayah Kecamatan Caruban, Kabupaten Madiun. Kemudian pada 1962 pentas di wilayah stasiun Jebres, Solo Jawa Tengah.

"Pada tahun 1961 kita sudah memiliki sistem lampu tutup buka berbahan kain makau (mori) dengan kelir terdiri dari delapan ban yang luasnya mencapai sembilan meter. Semuanya sukses, "kenangnya.

Bahkan, pada tahun 1965, disaat Republik dalam situasi berdarah, ketoprak Siswo Budoyo masih memainkan lakon di Klaten, Jawa Tengah.

Hanya saja, oleh pemerintah transisi Orde Baru, pementasan yang biasanya berlangsung sehari penuh sempat mendapat pelarangan. Ketoprak Siswo Budoyo hanya boleh main pagi dan siang hari.

"Saat itu (1965) kita dilarang main malam hari. Sebab informasinya, tidak sedikit orang-orang PKI yang diburu menggunakan pentas Siswo Budoyo sebagai tempat menyelinap dan bersembunyi, " ungkapnya.

Sunardi yang kini aktif sebagai pengasuh Sanggar Pasinaon Pambiworo (pembicara Bahasa Jawa) menegaskan, bahwa hingga akhir hayatnya pada 1998, ketoprak Siswo Budoyo tidak memiliki persinggungan atau bergabung dengan Lekra.

"Meskipun kita juga memiliki visi kerakyatan termasuk sampai mempunyai lembaga pendidikan rakyat, Siswo Budoyo tidak pernah menjadi organisasi kesenian yang dilarang pemerintah, " pungkasnya.

Sabtu, 07 Mei 2016

Slank My Scooter Love Mas Guntur Mahardika

Kenapa Geng Vespa Berbeda Dengan Geng Motor Pada Umumnya


Belakangan ini muncul fenomena geng motor di kalangan anak muda, khususnya remaja kita. Meskipun sama sekali bukan hal baru, namun geng motor mencuat ke publik berkenaan dengan isu dan praktek kekerasan yang lekat dengannya.

Sebenarnya bila remaja berkumpul dan berkelompok, itu merupakan hal yang lumrah. Masalahnya adalah ketika berkumpulnya mereka itu mengarah pada hal yang destruktif. Sebagaimana lazimnya manusia, kalangan remaja juga membutuhkan komunitas untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.
Maka dari hal itu saya sengaja membuat issue yang mengangkat hal positif dari pergaulan para geng motor, apalagi geng motor vespa, apa saja itu?
1

Kamu ga perlu gengsi sama tongkrongan kuda besimu, cukup bermodal vespa butut, mereka adalah keluarga disepanjang perjalanan kamu

Yaps! tepat sekali, kalau kebanyakan geng motor pada ngadalin pernak-pernik mahal yang mentereng, justru di geng vespa, kamu ga harus ngejar gengsi sob! cukup bermodal vespa butut warisan kakekmu, atau cuma bermodal uang 1jt kamu udah bawa pulang tuh vespa di pasar loak, dengan sama-sama menunggangi vespa, mereka sudah menjadi keluarga kedua kamu dijalan, bagi mereka tuh bukan apa yang dipamerin tapi kesederhanaan rasa dalam sebuah pergaulan antar sesama penunggang vespa!
2

Bukan hanya sorak soray saja yang kamu lakukan sepanjang jalan tapi pemahamanmu soal dunia perbengkelan semakin maju

Yah jelas, dengan bergaul dengan komunitas geng / klub motor otomatis menambah wawasan kamu seputar dunia otomotif, hal-hal yang berbau modifikasi yang sedang ngetrend saat ini. Misalnya nih ya, kamu pengen motormu kencang maksimal? Nah dari situ kamu bisa bertanya ke sesama bikers apa saja sih step by step ngeracik motor kenceng tapi ga boros bensin? Alat-alatnya apa ? Dan tentu pertimbangan soal harga juga semakin luas, syukur-syukur kamu dapat info lokasi penjualan suku cadang yang murah dan berkualitas? Hayoooo
3

Rasa setiakawan bukan sekedar tepok tangan tapi dibuktikan dengan banyaknya saudara di setiap daerah!

Geng vespa tuh terkenal dengan rasa solidaritasnya yang tinggi loh, apalagi geng vespa gembel, makan ga makan mereka semua pasti kumpul, ngumpulin duit sesama anggota buat ngisi perut bareng-bareng, minum bareng-bareng, so beda dengan geng motor yang lain yang lebih menonjolkan siapa sih lo? dan apa sih tunggangan lo?
4

Tidak hanya berkutat di kandang aja, tapi touring bareng akan membuka matamu tentang pesona pelosok daerah yang menakjubkan!

Selain membuatmu semakin mengerti arti persaudaraan, ajang kumpul bareng disetiap daerah semakin membuka matamu bahwa Negeri ini sangatlah indah, karena esensi sebuah kebahagiaan adalah bukan berapa harganya tapi bagaimana dari hal sederhana bisa membuatmu senang.
5

Dan yang terakhir, rasa saling tolong menolong yang sangat sederhana sesederhana kuda besi butut yang kamu tunggangi!

Geng motor vespa tuh selain solid juga mereka tak segan tuh saling tolong menolong sesama anggota atau dengan tetangga anggota, misalnya ban bocor, kehabisan bensin atau kuda besimu mogok, mereka tak sungkan menawarkan bantuan sama kamu, senang banget dong dengan pergaulan sederhana dan saling berbagi begini..
Akhir kata artikel ini sengaja saya buat agar semua pembaca tidak berskeptis terhadap geng motor, iya saya juga tahu mayoritas pemberitaan di media memang sering memunculkan hal-hal destruktif kepada geng motor, tapi apa salahnya kita semua melihat dari sisi yang berbeda?

Rabu, 30 Desember 2015

Merayakan Tahun Baru di Iran. Dari ulang tahun, melamar, menyambut kelahiran anak, menjenguk orang sakit, melayat, menjemput keluarga di bandara atau stasiun kereta api,

Oleh media-media Barat, Iran diperkenalkan sebagai negara yang masyarakatnya fundamental dan radikal, bahkan CNN menyebut mereka sebagai orang-orang yang keras kepala. Namun, ada fenomena menarik yang jarang diungkap mereka mengenai masyarakat Iran. Bagi yang pernah mengunjungi Iran, pasti tahu benar fenomena ini. Masyarakat Iran adalah masyarakat yang begitu gandrung dengan bunga-bungaan. 


Ukiran pintu dan dinding-dinding tiap bangunan, pagar, halte bis, desain papan-papan reklame selalu dengan motif bunga-bungaan. Saling memberi bunga pun menjadi budaya yang mengakar di dalam masyarakat yang dipimpin para Mullah ini. Dari ulang tahun, melamar, menyambut kelahiran anak, menjenguk orang sakit, melayat, menjemput keluarga di bandara atau stasiun kereta api, bertamu, meminta maaf, mengucapkan selamat dan merayakan hari-hari penting sudah menjadi kebiasaan untuk saling memberi minimal setangkai bunga. 
Murid-murid sekolah di hari guru (bertepatan dengan hari syahidnya Murtadha Muthahari) membawa setangkai bunga untuk diserahkan kepada gurunya. Di hari Ibu dan Perempuan (bertepatan dengan kelahiran Sayyidah Fatimah) para suami berjalan kaki sepulang kerja dengan membawa bunga di tangan. Mereka sengaja tidak berkendara agar bunga di tangan tetap segar dan tidak rusak ketika diberikan kepada sang istri. Sementara anak-anak sepulang sekolah berdesak-desakan di kios-kios penjual bunga untuk membeli setangkai bunga untuk ibu mereka. Karenanya tak heran, di setiap sudut jalan selalu saja ada kios penjual bunga.
Sejarahpun menyisakan catatan mengenai bunga dan perannya dalam revolusi Islam Iran. Revolusi Islam Iran 1979 juga dikenal dengan sebutan "Revolusi Bunga". Hari itu, rakyat Iran menghadapi kekuatan militer Syah yang memiliki persenjataan paling lengkap dan personel polisi yang paling mengerikan di dunia -saat itu- dengan lontaran bunga. Dengan lontaran bunga itulah mereka bisa memukul mundur militer dan meruntuhkan Dinasti Pahlevi. Sejak dari sinilah, masyarakat Iran semakin mencintai bunga-bunga dan seolah-olah tidak bisa melepaskan kehidupannya dengan bunga. Romantisme masyarakat Iran yang dibahasakan lewat bunga inilah yang jarang diungkap media.
Begitu juga dalam menyambut tahun baru Iran. Kios-kios penjual bunga menjamur di jalan-jalan. Semacam kewajiban bagi mereka, memberi ucapan selamat tahun baru sembari menyerahkan bunga. Selain itu, terdapat beberapa tradisi khusus masyarakat Iran dalam menyambut dan merayakan tahun baru mereka. Dalam penanggalan Iran  hari tahun baru adalah hari pertama di musim semi (disebut Fasl-e Bahor) yang setiap tahunnya bertepatan dengan tanggal 21 Maret. 
Sistem penanggalan Iran telah disusun sejak 1725 tahun sebelum Masehi dan terus mengalami penyempurnaan hingga kini. Dimasa kekhalifaan Islam, kalender Iran mengalami penyesuaian dengan kalender Islam dan disebut dengan Kalender Hijriyah Syamsi sebab penentuan tanggal Iran berdasar pada edar bumi terhadap matahari dan disebut Hijriyah karena tahun pertamanya juga dihitung dari hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Adanya perbedaan jumlah hari dalam setahun dengan kalender Hijriyah Qamari menyebabkan jalannya tahun pada kalender Iran lebih lambat dan tahun ini baru memasuki 1394 HS sementara kalender Hijriyah telah memasuki tahun ke 1435.
Tradisi menyambut tahun baru (mereka menyebutnya Nouruuz) dimulai sejak dua-tiga minggu sebelum bulan Esfand (bulan terakhir dalam penanggalan Iran) berakhir.  Hari-hari itu para ibu disibukkan dengan membersihkan rumah dan berbelanja hiasan baru untuk rumah mereka. Dengan adanya tradisi ini tentu saja pengeluaran di akhir tahun juga semakin bertambah, maka umumnya, kantor negara atau perusahaan di akhir tahun memberikan memberikan bonus atau hadiah tahun baru. Banyak sesuatu yang harus tersedia dalam prosesi penyambutan tahun baru. Dalam menyambut detik-detik masuknya tahun baru di hari terakhir tahun yang akan ditinggalkan, semua anggota keluarga dengan menggunakan pakaian terbaik mereka -biasanya selalu baru- akan duduk mengelilingi meja makan. 
Di atas meja makan telah tersedia tujuh buah jenis makanan, yang kesemuanya berawalan huruf sin (abjad Arab). Mereka menyebut makanan tersebut dengan haft-e sin (tujuh huruf sin) yang merupakan pelambang tujuh kreasi ciptaan Allah yang harus disyukuri dan dipelihara. Ketujuh makanan tersebut terdiri dari: Serkeh (cuka) yang bisa mengawetkan makanan melambangkan usia yang panjang dan kelestarian, Sir (bawang putih) yang melambangkan penyembuh, Samanu (semacam manisan yang terbuat dari gandum) yang melambangkan kemakmuran, Sib (apel) melambangkan kecantikan dan kesegaran, Sabzi (sayuran) melambangkan kesuburan dan kehidupan, Sumac (bumbu yang biasa ditaburkan pada kebab) melambangkan warna matahari terbit, dan Senjed (buah-buahan kering) yang melambangkan cinta dan perlindungan.
 
Yang juga biasanya tersaji di meja makanan adalah bibit gandum yang sudah tumbuh 4-7 cm di taruh pada keranjang kecil, cermin, Al Quran, ikan mas hidup dalam toples kaca, lilin, dan telur yang berwarna warni lebih seringnya berwarna bendera kebangsaan Iran, konon katanya tradisi ini telah berumur 15.000 tahun. Lilin pelita disimbolkan sebagai lambang penerangan dan cahaya kehidupan. Cermin merefleksikan masa lalu agar bisa menentukan rencana apa yang akan dilakukan di masa depan. Bibit gandum biasanya sesuai dengan jumlah anggota keluarga melambangkan produktivitas. Telur yang didekorasi dengan warna kebangsaannya melambangkan sentuhan patriotisme. Ikan mas dalam toples melambangkan hidup yang penuh aktivitas dan gerakan. Terakhir, Kitab Suci (bagi yang muslim, Al-Qur'an) melambangkan apapun yang mereka lakukan harus ditujukan hanya kepada Tuhan yang Esa dan berpedoman pada Kitab Suci. 
Ketika pemerintah melalui televisi secara resmi mengumumkan saat pergantian tahun, maka seluruh anggota keluarga saling berangkulan, mengucapkan selamat dan saling memberi bunga di antara mereka. Kepala keluarga lalu membacakan Al Quran dan doa-doa keselamatan. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama, sebagai lambang keharmonisan keluarga mereka. Di Qom, masyarakat Iran tumpah ruah di halaman kompleks pemakaman Sayyidah Maksumah, mereka melakukan do'a bersama dalam menyambut tahun baru 1394 HS. Hari-hari selanjutnya adalah hari saling mengunjungi sanak famili dan handai tolan serta berekreasi di tempat wisata dan berlangsung selama 12 hari kedepan. Secara resmi hari-hari tersebut adalah hari-hari libur. Diantara berbagai perayaan tahun baru di dunia bisa jadi perayaan tahun baru di Iran inilah yang terpanjang.
Di dekat apartemen khusus pelajar luar negeri, Ogoye Karimi yang biasanya hanya menjual buah dan sayur-sayuran, memanfaatkan momentum tahun baru dengan menambah usahanya dengan menjual ikan mas dan pernak-pernik tahun baru. Namun ada yang unik dari jualannya, dia juga menjual anak ular hidup dan ditaruhnya dalam toples bening. Ketika ditanya anak ular itu pelambang apa, dia menjawab, "Ini adalah pelambang kreativitas, masa yang di dalam toples tiap tahun ikan mas melulu". Saya hanya tersenyum, mungkin Ogoye Karimi lupa, filosofi ikan mas melambangkan kelincahan dan aktivitas, sedangkan ular cenderung malas bergerak.

Dan terlebih lagi, memandangi ular di meja sajian sangat beresiko, sebab dapat mengganggu selera makan. Tapi itulah tahun baru, bagi masyarakat Iran –setidaknya oleh Ogoye Karimi- harus selalu ada kreativitas yang baru.

Jumat, 11 September 2015

SELAMAT ULANG TAHUN KE-18 BUAT MBAK SELVI PITALOKA

“Tawa dan tangis datang silih berganti, menyertai tiap langkah
perjalanan hidupmu, Tanpa terasa sudah bertambah satu tahun usiamu,
Biarkan aku mengiringi kebahagiaanmu di hari ini, Dari hati semoga
abadi, izinkan aku ucapkan segelintir doa dan harapan untukmu, Selamat
ulang tahun, semoga Tuhan senantiasa menyertai setiap langkahmu”